Makalah Konsumsi Menurut Ekonomi Islam

Makalah Konsumsi Menurut Ekonomi Islam

Secara umum, pengertian konsumsi merupakan suatu kegiatan menghabiskan atau mengurangi kegunaan (utility) suatu benda, baik secara langsung atau tidak langsung untuk memenuhi kepuasan dari kebutuhannya, seperti membeli makanan, pakaian, dan barang-barang kebutuhan lainnya.

Oleh karena itu, semakin tinggi nilai dari barang yang dibeli, maka semakin tinggi kepuasan yang akan diraih. Apabila hal ini selalu diterapkan, maka akan condong kepada konsumsi yang selalu mementingkan diri sendiri dan menyingkirkan kepentingan orang lain, padahal sebagai manusia sudah sewajarnya kita hidup bersosial dan saling tolong menolong.

Selain itu juga, batasan dalam konsumsi hanya akan ditentukan pada tingkat pendapatan yang siap dibelanjakan, dan tidak mementingkan halal atau haram maupun kepentingan sosialnya.

Pengertian Konsumsi Menurut Islam

Pengertian konsumsi dalam ekonomi Islam adalah memenuhi kebutuhan baik jasmani maupun rohani, sehingga mampu memaksimalkan fungsi kemanusiaannya sebagai hamba Allah SWT untuk mendapatkan kesejahteraan atau kebahagiaan di dunia dan akhirat (falah).

Dalam melakukan konsumsi, maka perilaku konsumen harus selalu didasarkan pada Syariat Islam.

Dalil Quran tentang Perilaku Konsumsi

Dasar perilaku konsumsi itu antara lain disebutkan dalam Alquran Surah Al-Maidah (5): 87-88:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadaNya.”

Kegiatan konsumsi dimaksudkan untuk banyak hal selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam. Memenuhi kebutuhan ataupun keinginan pribadi pun diperbolehkan, selama hal itu tidak melanggar ketentuan syariat atau hal-hal yang diharamkan, dan tidak mengganggu kepentingan orang lain dan lingkungan.

Hal lain yang lebih dianjurkan dalam Islam adalah melakukan kegiatan konsumsi untuk tujuan memaksimalkan kemaslahatan dan bukan sekadar mengejar kepuasan pribadi.

Dalam berkonsumsi, terkadang seorang yang beriman terpanggil untuk mengonsumsi barang dengan maksud sebatas mendapatkan berkah meskipun kepuasan pribadi tidak diperoleh.

Misalkan, beberapa muslim yang tinggal di negara dengan penduduk minoritas muslim seperti di Eropa dan di Amerika rela mengeluarkan biaya mahal untuk mendapatkan makanan yang halal.

Tujuan Konsumsi Menurut Ekonomi Islam

Mengonsumsi sesuatu dengan niat untuk meningkatkan ketaatan pengabdian kepada Allah SWT akan menjadikan konsumsi itu bernilai ibadah dan mendapatkan pahala.

Dalil Quran Tujuan Konsumsi

Dalam ekonomi Islam, konsumsi dinilai sebagai sarana wajib bagi seorang muslim dalam merealisasikan tujuan yang dikehendaki Allah SWT dalam penciptaan manusia, yaitu merealisasikan pengabdian sepenuhnya hanya kepadaNya, sesuai firman Allah SWT dalam Alquran Surah Adz-Dzariyat (51): 56:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu.”

Oleh karena itu, Islam mewajibkan manusia mengonsumsi sesuatu yang dapat menghindarkan dari kerusakan dirinya, dan mampu melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah SWT kepadanya.

Dalil Hadis Tujuan Konsumsi

Dalam konsumsi menurut konsep Islam, seluruh perilaku konsumsi harus sesuai dengan nilai dan prinsip ajaran Islam. Misalnya, dalam aspek memerhatikan orang lain dalam melakukan konsumsi, hal ini terdapat dalam hadis Rasulullah SAW yang berbunyi:

Dari Abu Dzarr radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata:

“Rasulullah SAW bersabda: Jika engkau memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu.” (HR. Muslim, No.1492).

Dalam hadis yang lain juga dijelaskan bahwa diharamkan seorang muslim untuk hidup bermewah dengan cara yang tidak benar. Misalnya, hidup bermewah-mewah namun tidak mau berbagi kepada fakir miskin.

Dalam Alquran Surah Al-Taubah (9): 34, Allah SWT berfirman:

“…Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah SWT, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih.”

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Konsumsi

a. Jumlah barang atau jasa yang akan dibeli atau dikonsumsi.
b. Besarnya pendapatan yang akan dibelanjakan.
c. Besarnya pendapatan yang akan ditabung.

Maslahat dalam Konsumsi

Kegiatan mengonsumsi barang atau jasa memiliki dua tujuan, yaitu untuk memperoleh maslahat dan memperoleh kepuasan. Maslahat dari suatu barang atau jasa berupa aspek berkah dan manfaat, sedangkan kepuasan hanya memiliki aspek manfaat saja.

Contoh Maslahat dalam Konsumsi Ekonomi Islam

Sebut saja Singgih dan Giri, pada suatu waktu mereka berdua membeli sate kambing untuk berbuka puasa di tempat yang berbeda-beda.

Singgih membeli sate kambing di tempat yang telah dijamin kehalalannya, baik dalam hal penyembelihan maupun dalam memasak daging kambing, seluruhnya telah diproses sesuai aturan syariah.

Hal berbeda dilakukan oleh Giri. Giri membeli sate kambing di tempat yang tidak terjamin kehalalannya. Hal ini dilakukan karena Giri orang yang tidak peduli terhadap masalah kehalalan.

Dari contoh tersebut kita dapat menyimpulkan dalam segi manfaat, sesuatu yang dibeli oleh Singgih dan Giri memiliki manfaat yang sama dalam bentuk makanan sate kambing.

Namun demikian, maslahat yang diterima oleh Singgih lebih besar daripada maslahat yang diterima oleh Giri, karena ada aspek kehalalan yang menjadi berkah pada makanan yang dibeli Singgih.

Video Penjelasan Tentang Ekonomi Islam

Sebagai pembuka wawasan boleh juga menyimak video berikut dari channel Youtube Bank indonesia

Demikianlah Makalah Konsumsi Menurut Ekonomi Islam yang kami sarikan dari Buku Digital Buku Pengayaan Pembelajaran Ekonomi Syariah keluaran edukasi Bank Indonesia.

Share di

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *