Masalah Pokok dalam Ekonomi Islam

Masalah Pokok dalam Ekonomi Islam

Masalah ekonomi Islam ini dapat kita bagi atas dua yaitu permasalahan ekonomi Islam secara umum dan permasalah pokok.

Pernahkah terpikirkan oleh kita mengapa harga air bersih sekarang lebih mahal daripada harga air bersih sebelumnya?

Jawabannya dikarenakan saat ini air bersih telah mengalami kelangkaan di beberapa wilayah, sehingga membuat masyarakat yang awalnya bisa mendapatkan air bersih secara cuma-cuma menjadi harus membelinya.

Demikian halnya dengan komoditas beras di Indonesia yang harganya semakin meningkat. Hal ini disebabkan berkurangnya lahan pertanian akibat adanya alih fungsi lahan pertanian menjadi pabrik dan perumahan.

Beberapa pertanyaan penting terkait dengan hal ini adalah mengapa kelangkaan itu terjadi?

Bagaimana ekonomi menyelesaikan masalah kelangkaan?

Bagaimana pandangan Islam tentang masalah pokok ekonomi?

Bagaimana sistem perekonomian yang mampu membawa masyarakat meraih kesejahteraan tanpa mengorbankan aspek moralitas dan perusakan lingkungan?

Permasalahan Ekonomi Islam

1. Ketidakmerataan Distribusi Sumber Daya

Distribusi sumber daya yang tidak merata antarindividu atau wilayah merupakan salah satu penyebab kelangkaan relatif. Sumber daya ini meliputi sumber daya alam maupun sumber daya manusia.

Secara alamiah, Allah SWT menganugerahkan keberagaman pada ciptaan-Nya untuk menguji siapakah manusia yang dapat bersyukur dan bersabar.

Terdapat daerah-daerah yang kaya akan sumber daya alam atau kaya akan tenaga kerja dan keahlian. Disisi lain, terdapat pula daerah-daerah yang miskin sumber daya.

Islam mengajarkan mereka yang diberi kelebihan untuk bersyukur, yaitu dengan menggunakan sumber daya tersebut secara baik, termasuk membaginya kepada mereka yang membutuhkan sesuai dengan Alquran Surah An-Nisa, Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa (4): 32).

Adanya perbedaan ketersediaan sumber daya alam di daerah-daerah menimbulkan masalah kelangkaan relatif, namun dalam jangka panjang dimungkinkan manusia untuk belajar dan melakukan inovasi agar kebutuhannya terpenuhi.

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 33 ayat (3) menyebutkan bahwa bumi, air, dan
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Ini sangat sejalan dengan ajaran Islam, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis dalam kitab Bulughul Maram:

“Dari salah seorang sahabat radhiyallahu‘anhu, ia berkata: Saya berperang bersama Nabi shallallahu‘alaihi wasallam, lalu aku mendengar beliau bersabda: Manusia adalah serikat dalam tiga hal: dalam padang rumput, air, dan api.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Hadis tersebut melarang adanya pemilikan individu atau bahkan monopoli terhadap tiga sumber alam utama, yaitu air, rumput, dan api.

Mata air dan sumur wajib dimanfaatkan bagi kepentingan umum. Seseorang yang mempunyai sumber air wajib mengizinkan orang lain mengambil airnya, tidak dibenarkan memonopoli untuk diri dan keluarganya saja.

Demikian juga seseorang yang memiliki api atau sumber energi seperti gas alam, minyak bumi, dan energi alam lain karena energi merupakan hajat hidup manusia juga.

Begitu pula padang rumput yang hanya sedikit jumlahnya di tengah gurun, yang menjadi tempat penggembalaan ternak bagi seluruh penduduk.

Islam juga mengajarkan manusia untuk bersabar. Sabar sering dipersempit maknanya yaitu lapang dada menerima musibah. Sebenarnya, sabar menurut Islam memiliki arti yang lebih dalam, yaitu pantang menyerah dalam tiga urusan, yaitu sabar dalam melaksanakan dan menegakkan kebenaran, sabar dalam menjauhi dan mengajak meninggalkan maksiat atau kemungkaran, dan sabar terhadap musibah yang menimpa.

Sikap sabar dinilai sangat penting, sehingga Allah SWT memposisikan sikap sabar ini setara dengan ibadah salat, rukun Islam kedua, di mana sabar dapat digunakan sebagai penolong kita (QS. Al-Baqarah (2): 153, 177, QS. Taha (20): 132, QS. Az-Zumar (39): 10).

Kemudian Masalah Pokok dalam Ekonomi Islam selanjutnya adalah….

2. Manusia Memiliki Kemampuan Terbatas dan Berpotensi Serakah

Ketidaktahuan terhadap informasi bisa membuat pilihan alternatif menjadi berkurang.

Ketika dulu belum ada teknologi internet, kita hanya bisa mengandalkan informasi dari telepon atau berita televisi untuk mengetahui apakah jalan yang akan kita lalui macet atau tidak.

Oleh karena itu, diperlukan persiapan waktu yang cukup lama sebelum pergi ke sekolah. Namun demikian, kini telah berkembang teknologi deteksi kemacetan berbasis internet seperti waze dan google maps, sehingga kita mendapatkan informasi lebih cepat dan tepat mengenai posisi kemacetan.

Secara umum, keterbatasan informasi yang dimiliki manusia dapat menjadikan berkurangnya pilihan alternatif
kegiatan ekonomi.

Setiap manusia memiliki hawa nafsu atau kecenderungan untuk memenuhi keinginannya, yang baik ataupun yang buruk. Alquran banyak mengingatkan bahwa banyak di antara manusia yang terjebak mengikuti hawa nafsunya atau disebut dengan mempertuhankan hawa nafsu, di antaranya dalam Alquran Surah Al-’An’am yang berbunyi:

”Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkanNya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas,” (QS. Al-’An’am (6): 119).

Dominasi hawa nafsu dalam pengambilan keputusan dapat berakibat pada penggunaan sumber daya melebihi dari yang dibutuhkan (seperti pemborosan), penyalahgunaan sumber daya (seperti minuman memabukkan, perjudian), atau pembiaran terjadinya perusakan sumber daya (seperti pembalakan liar).

Bentuk tidak bersyukur di antaranya adalah serakah atau tamak dan selalu merasa kurang dalam urusan duniawi.
Keserakahan ini menimbulkan perilaku berlebihan dalam konsumsi maupun produksi, sehingga berdampak pada kelangkaan sumber daya yang lebih cepat.

Salah satu bentuk perilaku tidak sabar adalah keinginan untuk mengambil jalan pintas. Lanjut lagi Masalah Pokok dalam Ekonomi Islam yang ketiga yaitu.

3. Manusia Menghadapi Trade-off dalam Memilih Tujuan Hidup

Meski kita memahami dan menyadari bahwa perbuatan buruk akan menyebabkan sengsara di dunia dan akhirat, namun hal itu tidak selalu bisa diamati dan dirasakan dalam jangka pendek.

Seringkali perbuatan buruk memberikan kenikmatan dalam jangka pendek, dan belum tentu dampak buruknya langsung dirasakan seperti berjudi, mencuri, riba, merampas, juga menipu.

Acapkali kita harus memilih antara kepentingan sesaat dan kepentingan jangka panjang, antara kepentingan pribadi dan kepentingan keluarga dan sosial, antara kepentingan material dan kepentingan spiritual, antara kepentingan duniawi dan kepentingan akhirat.

Ada kalanya kebahagiaan akhirat dapat diraih bersama-sama dengan kebahagiaan duniawi, seperti bersedekah, membantu fakir miskin, berhaji dan umrah, makan minum yang halal, dan sebagainya. Namun demikian, ada kalanya kepentingan akhirat bertentangan dengan kepentingan duniawi, seperti bermabuk-mabukkan, berjudi,
meminjamkan uang dengan sistem riba, dan sebagainya.

Perbuatan melakukan hal-hal yang dilarang dapat berdampak pada penggunaan sumber daya yang tidak seharusnya
dilakukan, sehingga menambah terjadinya kelangkaan.

Selain permasalahan secara umum tersebut, dapat juga kita khususkan terkait permasalahan pokoknya yaitu.

Masalah Pokok Ekonomi Islam

Peran utama ilmu ekonomi adalah memutuskan dalam menentukan pilihan dari berbagai alternatif yang ada mengenai masalah pokok ekonomi, apa yang akan diproduksi (what), bagaimana dan kapan diproduksi (how), serta kepada siapa output didistribusikan (for whom).

Kelangkaan sumber daya bersifat relatif dan bisa disebabkan oleh ketidakmerataan distribusi sumber daya secara alamiah, ketidakmampuan manusia serta potensi pertentangan antartujuan hidup manusia.

Ekonomi Islam berperan mengatasi masalah-masalah ketidakmerataan distribusi sumber daya.

Masalah-masalah pokok ekonomi Islam adalah:

1. Komoditas Apa yang Dibutuhkan untuk Mewujudkan Maslahat

Maslahat adalah setiap keadaan yang membawa manusia pada derajat yang lebih tinggi sebagai makhluk yang sempurna. Individu dan masyarakat yang peduli maslahat akan memilih dari alternatif yang ada tentang komoditas barang atau jasa apa yang diperlukan, dalam jumlah berapa dan kapan diperlukan sehingga maslahat dapat
terwujud.

Pada dasarnya, sumber daya dapat digunakan untuk memenuhi berbagai keinginan dan kebutuhan manusia, jadi terdapat pilihan-pilihan alternatif pemanfaatan sumber daya.

Ekonomi Islam akan memilih pemanfaatan sumber daya untuk berbagai komoditas yang benar-benar dibutuhkan untuk mencapai falah.

2. Bagaimana Cara Menghasilkan Komoditas Agar Maslahat Tercapai

Individu dan masyarakat yang peduli maslahat akan memutuskan siapakah yang akan memproduksi, bagaimana teknologi produksi yang digunakan, dan bagaimana mengelola sumber daya sehingga maslahat dapat terwujud.

Kemaslahatan dalam produksi bisa terjadi sepanjang proses produksi yaitu pemilihan input, proses produksi,
hingga output dihasilkan.

Produksi yang mengandung maslahat yaitu produksi yang menggunakan input halal, diproses secara halal, dan menghasilkan output halal.

3. Bagaimana Komoditas Didistribusikan Agar Tercapai Kemashalatan

Individu dan masyarakat yang peduli maslahat akan memutuskan siapakah yang berhak mendapatkan barang atau jasa serta dengan cara bagaimana sehingga setiap individu memiliki kesempatan untuk mendapatkan maslahat dan kepada siapa sumber daya didistribusikan.

Nilai utama dalam distribusi komoditi yang sesuai Islam adalah keadilan dan menolong (takaful), di mana sumber daya serta barang atau jasa didistribusikan kepada individu secara adil melalui mekanisme pasar ataupun metode kebajikan atau takaful (misalnya tidak menimbun barang, tidak mengurangi timbangan), sehingga
setiap individu dapat merasakan kemaslahatan dari komoditas yang diproduksi.

Distribusi dalam ekonomi Islam melalui mekanisme nonpasar di antaranya adalah penerapan sistem warisan, wasiat, hadiah, sedekah, pajak, dan wakaf.

Demikianlah permasalahan dalam ekonomi islam yang kami sarikan dari Buku Digital Buku Pengayaan Pembelajaran Ekonomi Syariah keluaran edukasi Bank Indonesia.

Share di

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *