Unsur Pembentuk Sistem Ekonomi

Unsur Pembentuk Sistem Ekonomi

Sistem ekonomi pada dasarnya merupakan suatu hubungan jaringan organisasi (rumah tangga, produsen, dan pemerintah) dengan kerangka kerja dalam produksi, distribusi, dan konsumsi barang atau jasa yang dihasilkan dalam suatu perekonomian.

Suatu sistem ekonomi meliputi bagaimana output diproduksi dan dibagikan di antara anggota masyarakat, bagaimana insentif dan pengambilan keputusan dibuat, seberapa besar peran pemerintah dalam menyediakan barang atau jasa, peran pasar dan pengawasannya, sistem legal dalam aspek kepemilikan aset, dan kepemilikan faktor produksi.

Menurut Gregory, Stuart (2003) elemen pokok dari suatu sistem ekonomi ada 4 (empat) yaitu:

1. Hak kepemilikan.
2. Mekanisme penyediaan informasi dan koordinasi.
3. Metode pengambilan keputusan.
4. Sistem insentif bagi perilaku ekonomi.

Hak kepemilikan

Konsep mengenai hak milik, memiliki implikasi yang mendasar bagi keseluruhan sistem ekonomi.

Konsep ini akan menjadi dasar tentang apa (what), bagaimana (how), mengapa (why), serta untuk siapa (for whom) seluruh sumber daya ekonomi di muka bumi ini.

Masalah hak milik berkaitan dengan pengakuan secara legal terhadap kepemilikan sumber daya maupun output dan batasan-batasannya. Suatu sistem ekonomi kemungkinan memberikan tekanan pada jenis hak milik tertentu, namun secara umum dapat dikategorikan menjadi hak milik individu, hak milik sosial, dan hak milik negara.

Mekanisme penyediaan informasi dan koordinasi.

Mekanisme penyediaan informasi terkait dengan penyediaan informasi ketersediaan pasokan barang, ketersediaan input, harga-harga barang input, dan juga informasi lain yang diperlukan oleh pelaku ekonomi.

Secara umum, mekanisme penyediaan informasi dan koordinasi keputusan ekonomi dapat dilakukan menggunakan mekanisme pasar, perencanaan, atau juga tradisi setempat.

Metode pengambilan keputusan

Secara umum pengambilan keputusan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sentralisasi dan desentralisasi. Sistem sentralisasi menekankan bahwa pengambilan keputusan dilakukan oleh satu otoritas pemerintah pusat dan pelaku ekonomi hanya berperan sebagai pelaksana pengambilan keputusan.

Dalam konteks perekonomian suatu negara sistem ini akan menghasilkan suatu perekonomian terencana. Sistem ini dilahirkan oleh paham sosialisme.

Pada sisi kapitalisme, pengambilan keputusan cenderung diserahkan kepada setiap pelaku ekonomi, sehingga tidak diperlukan suatu otoritas tunggal dalam pengambilan keputusan ekonomi atau yang disembut metode pengambilan keputusan desentralisasi.

Sistem desentralisasi ini akan menghasilkan suatu pasar persaingan bebas.

Sistem insentif bagi perilaku ekonomi

Konsep dan pemahaman mengenai kepemilikan harta membawa implikasi kepada motivasi dan insentif setiap individu. Ketika seseorang meyakini bahwa harta yang dalam kekuasaannya adalah hak miliknya secara mutlak, maka ia akan merasa memiliki kebebasan untuk memanfaatkan sesuai kehendaknya tanpa perlu mempedulikan
nilai-nilai yang tidak sesuai dengan kepentingannya.

Dalam paham kapitalisme, kegiatan ekonomi cenderung dimotivasi oleh kepentingan individu.

Misalnya, seorang konsumen cenderung termotivasi untuk memaksimalkan kepuasan individunya dan seorang produsen cenderung termotivasi untuk mencari keuntungan pribadi sebanyakbanyaknya.

Sebaliknya, dalam paham sosialisme kegiatan ekonomi lebih didorong oleh insentif keamanan atau kenyamanan sosial. Meskipun kedua paham ini mendasarkan pada insentif yang berbeda, namun baik insentif individu maupun insentif sosial seringkali diukur dari aspek material semata.

Kesejahteraan individu seringkali dimaknai dengan tingginya pendapatan dan daya beli individu. Disamping itu kesejahteraan sosial sering kali dimaknai oleh tingginya pendapatan dan daya beli masyarakat.

Hal yang paling membedakan antarsistem ekonomi terletak pada peran relatif pasar dan pemerintah dalam menentukan barang atau jasa apa yang diproduksi, bagaimana mereka diproduksi, dan siapa yang mendapatkan hasil produksi.

Pembeda utama kedua terletak pada peran aspek moralitas dan keadilan dalam sistem ekonomi. Terdapat beberapa cara untuk mengklasifikasikan sistem ekonomi, salah satunya dengan membagi sistem ekonomi menjadi 3 (tiga), yaitu ekonomi pasar, ekonomi komando, dan ekonomi campuran.

Dua negara yang mempunyai sistem ekonomi yang sama belum tentu memiliki karakteristik sama. Banyak hal yang memengaruhi karakteristik ekonomi di suatu negara, di antaranya adalah pilihan ideologi, latar belakang sejarah
bangsa, dan kondisi keterbukaan negara.

Sebelum munculnya sistem ekonomi, kita telah mengenal ekonomi tradisional dimana sistem ini didominasi oleh sektor pertanian tanpa spesialisasi tenaga kerja.

Perekonomian banyak bergantung pada tradisi, adat istiadat, sumber daya alam, dan agama dalam memutuskan apa dan bagaimana barang atau jasa diproduksi dan didistribusikan, serta apa pekerjaan yang dipilih.

Komoditas, hewan, dan tanah masih banyak digunakan untuk menyimpan kekayaan, dan sistem barter masih sangat umum terjadi.

Sistem tradisional ini masih ada di beberapa pedalaman negara berkembang seperti India bagian selatan, Nepal, dan Kenya.

Demikianlah artikel mengenai Unsur Pembentuk Sistem Ekonomi yang kami sarikan dari Buku Digital Buku Pengayaan Pembelajaran Ekonomi Syariah keluaran edukasi Bank Indonesia.

Share di

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *